Kalian takut ujian ga?
All of us (members in my group) agreed that we weren’t worry of any exam in high school. But yes most of us have worrisome for exam here in medical school.
Kalau ada staff atau siapapun kasih kisi-kisi atau soal, kalian bakal liat ga?
Various answers come from every person. Oldi gave a wise answer saying ‘karena nila setitik rusak susu sebelenga’. No matter how small it is, we shouldn’t take anything bad for ourselves which means he doesn’t suggest us to have a look on that thing. While Upi gave more rational answer by saying that she’s going to study all chapters and focus more on the ‘kisi-kisi’. In silence I answer I wouldn’t trust anything called ‘kisi-kisi’ anymore. Last midterm exam, the faculty released it and the exam was pretty different. My mistake is I trust that ‘kisi-kisi’ because the lecturer signed it. We shouldn’t study for exam. We must study for our future patients. I almost forget that I should study for patients’ sake.
Kalian pernah kepikiran ga nanti mau jadi pakar apa?
secara berbisik saya mengatakan tidak kepada teman-teman saya yang (mungkin) secara involunteer langsung mengalihkan pandangan kepada saya setelah pertanyaan itu dilontarkan.
Nope, I don’t want to be any expertise that being so damn busy and neglect her family. I really don’t.
This carrier path has become one my biggest dilemma. Being a doctor is nice. But being an extremely busy woman isn’t my purpose. I believe I am able to be anything I want. I believe I could make myself a programmer. I believe I could be a teacher. I believe I could be a cook. I believe I could be a business woman. I believe I could be a politician. I believe that I am able. But then at the end of senior high school time, I choose this pathway because I thought being a doctor won’t take my time as much as a business woman who works for industry does.
The point is being smart doesn’t mean anything if you can’t teach your kids. Nope, it’s not like I’m going to create another genius kid to this world. It’s just that I want them understand that they were born and exist in this world with a purpose. This purpose isn’t going to be taught well at any school. I have passed elementary till senior high school. None of them give a real explanation and understanding on why I was born into this world. Then I believe that I’m responsible for that, just like how my mom did it.
I want to make sure that my kids grow well. Just like how my mom did it.
But being a medical student is harder than I thought. I study harder than ever. I read much more books. I sleep much less than before. All this ‘effort’ (someone said that I always sleep like no study yet I get higher score, and it makes me look effortless) I put makes me grow more dreams. I want to take specialty in obstetrics and gynecology. I want to be a lecturer. And I want to take magister in public health and/or hospital management. I even imagine how this job at the end will make me sleep at hospital and never meet my family. Is it a sin at the end I feel that I should appreciate myself more?
Kalian bisa jadi apapun yang kalian inginkan. Kalau kalian ga pernah kepikiran mau jadi apa, ya ga akan tercapai. Kalian cuma akan jadi orang yang belajar buat ujian, takut sama ujian. Kalau kalian percaya, kalian tuh sebenarnya bisa jadi apapun. Percaya deh.
Dengan segala kemajuan teknologi saat ini, harusnya kalian bisa menyamai professor-professor yang dulu belajarnya bahkan cuma pakai buku. Dulu kalau dosen nyebut istilah apa, kita cuma bisa bingung atau mungkin cari di Dorland yang tebelnya segini (menggambarkan dengan tangan yang intinya emang tebel banget). Kalau kalian kan bisa langsung buka google. Kalau mahasiswa dulu ke kampus itu bawa tas gede isinya buku fisiologi, anatomi, Dorland. Ga ada yang pake tas-tas kecil gitu (menunjuk tas yang kami bawa). Harusnya kalian ga ada masalah dengan informasi.malah harusnya bisa lebih daripada professor-professor itu.
Coba ketika kalian mengulang yang tadi saya jelaskan, di otak kalian pasti memikirkan alasan-alasannya kan? Saya mau ngajarin kalian supaya belajar kedokteran dengan mengandalkan nalar, bukan mengandalkan hafalan. Karena kalau kalian baca aja, dalam waktu 3 jam itu akan terdegradasi dari memori entah sekian persen dan itu udah ada penelitiannya. Itu baru 3 jam, untuk jam-jam selanjutnya? Tadi kita udah coba men-distract memori awal dengan memberi tambahan informasi. Coba bayangkan, kalian hidup kan? Tiap hari dapat informasi baru. Informasi yang lama semakin hilang. Makanya belajar itu bukan menghafal, tapi pakai nalar. Belajar skill’s lab kayak gini sih gampang. Tinggal suntik aja. Bisa dilakukan kurang dari 9 menit. Tapi saya ingin kalian mengerti kenapa kalian belajar ini.
-dr.leo-
alhamdulillah another inspring session in skill’s lab. bunch of thanks, doc! :)
ini semacam suntikan motivasi untuk menjalani kehidupan yang berat penuh perjuangan ini.
PS: i want dr. SNF back for tutorial. i need her and her ‘bombardir’ questions to increase our ‘nalar’ :)